Buat kamu yang berusia 20-an, sebaiknya baca ini yah..

sebelum 30 - 1 (1)

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog Fee. Taste. Style khususnya perempuan yang lagi seru-serunya menikmati masa penuh kejutan di usia 20-an. Beberapa bulan lagi usia saya menanjak ke angka 30 (ehmmmm berumur banget yah). Fase usia dewasa yang katanya mulai serius mikirin hidup #tsaelah. Mungkin ada benernya juga kata orang-orang itu, karena di titik ini saya menanyakan “Udah ngapain aja sih wed selama ini?”. Dari pertanyaan itu, saya ketemu jawaban yang malah bikin saya nyinyir begini…

“Yaelah coba gue tahu ini lebih awal.”

Makanya dari itu pengen banget saya berbagi pengalaman ke kalian yang lagi happy-happy-nya. Siapa tahu lewat tulisan ini kamu jadi lebih mengerti apa yang sebaiknya kamu lakukan.

Baca lebih lanjut

MY FEARS AND GOALS

My fears is me, myself and I.

Setiap orang pasti punya ketakutan dan kekhawatiran dalam diri sendiri. Dan untuk saya, ketakutan terbesar saya adalah menghadapi diri saya sendiri. Kenapa? Karena saya merasa memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Kalo saya baca di internet isitilahnya Bipolar, tapi rasanya terlalu berlebihan jika saya menyebut diri sendiri bipolar syndrom.

Seperti halnya Yin-Yang, hitam-putih, baik-buruk, suka-duka begitu juga dengan kepribadian saya. Eits ini bukan berarti saya bermuka dua yah, yang ngomong di depan dan belakang beda. Tapi ini lebih kepada sikap saya dalam menanggapi suatu hal selalu dilihat dari dua sisi saya. Jadi gini saya memiliki dua karakter, Dewi dan Iwed. Saya mencoba menyederhanakan pemikiran saya mengenai mereka.

dewivsiwed

Dewi

Penurut dan taat peraturan. Tidak berani ambil resiko, cari aman. Introvert, kaku, plegmatis. Bijak, dewasa. Perencana jangka panjang. Saving. Warna: Hitam

Iwed

Spontanious – dreamer. Rebel, Suka hura-hura. Gak memikirkan resiko. Pemikir jangka pendek. Ekstrovert, sanguin. Gampang bosan. Spending. Warna: Kuning

Karena dua karakter yang kontradiktif ini saya jadi sering pusing sendiri. Berdebat sambil bicara dengan diri sendiri menjadi kebiasaan sehari-hari yang seringkali bikin orang disekitar saya bingung sama tingkah saya. Dewi sering banget nyalahin Iwed karena keteledoran dan pilihan spontan yang berujung salah. Gitu juga dengan Iwed, sering ngompor-ngomporin Dewi yang bukan seorang risk taker. Iwed seorang pemimpi dengan segala imajinasi. Sedangkan Dewi merasa hidupnya saat ini sudah sangat nyaman dan tercukupi. Saat menulis ini pun saya juga bingung mau ambil sudut pandang dari mana. Dewi yang ngomongin Iwed atau seorang Iwed yang ngomongin Dewi. Arggghhhh.

Dengan dua karakter ini, jadi tantangan buat saya untuk saling mendamaikan mencari jalan tengah. Jika saya terus berkutat dengan perbedaan keduanya, maka gak akan pernah ketemu titik tengahnya. Berakibat saya keseringan jalan ditempat dan selalu merasa puas dengan impian yang hanya ada diangan-angan. Just dreaming not action. Please don’t do that Dewi & Iwed!!! (lah ini yang nulis siapa? – hahaha auahhh)

My Goals

Beberapa minggu lalu di pagi hari yang cerah ceria, saya di whatsapp sama kak Bunga yang ngasih pertanyaan sulit. Pertanyaannya lebih sulit dari game Duel Otak “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?”. Saya cuma bisa jawab “Kak masih pagi, kok udah ngasih pertanyaan susah bener. Belum tahu kak.”

Yes ternyata diusia yang (tidak lagi) muda ini, saya masih bingung soal apa yang mau saya lakukan di hidup ini. Bukannya menjawab pertanyaan, obrolan di whatspp malah berlanjut dengan saya curhat perihal passion hidup. Kak Bunga ngasih beberapa insight supaya saya tahu apa yang sebenarnya mau saya kerjaan.

Pertanyaan kak Bunga pun saya lempar ke temen-temen lewat status FB. Saya mendapatkan jawaban yang sangat beragam. Paling tidak beberapa temen-temen saya di FB sudah tahu apa yang mau mereka kerjakan dalam hidup ini sampai mati. Mereka sudah tahu apa hal yang menjadi semangat dan gairah mereka setiap bangun pagi. Sedangkan saya entahlah?!

To be honest diparagaf ini saya belum bisa memutuskan apa yang akan menjadi goal saya. Jika saya jawab soal uang, kekuasaan dan kesenangan itu sudah pasti bukan menjadi tujuan hidup saya. Ya siapa sih yang gak mau tiap bulan liburan ketempat-tempat eksotik atau belanja barang-barang fancy tanpa harus mikirin “bayar cicilan gimana?”, saya ingin hidup itu, tapi ya gitu hanya sekedar ingin. Saya tidak mau menjadi bagian orang yang bekerja keras selama 6 bulan. Meski mengeluh dengan beratnya pekerjaan namun tetap dikerjakan karena kebutuhan untuk mengumpulkan uang. Kemudian uang dihambur-hamburkan untuk liburan keluar negri terus pameran foto deh di media sosial hanya untuk bikin warga dunia maya iri. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi tidak, itu bukan saya.

Saya ingin memiliki hidup yang berarti dan bermanfaat. Meskipun bukan untuk orang banyak, setidak untuk saya dulu saja. Saya ingin terus menciptakan karya yang memiliki makna untuk saya sendiri dan syukur-syukur untuk orang lain. Karya seperti apa? Karya apa saja yang bisa saya buat. Saya tidak mau membatasi diri akan kemampuan yang saya miliki.

Saya ingin banyak berbagi kepada orang disekitar saya. Jika saya tidak bisa berbagi uang, saya bisa berbagi tenaga. Jika saya tidak bisa berbagi tenaga, saya akan berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Intinya saya ingin berbagi. Karena dengan berbagi, saya merasa ada gunanya hidup di bumi ini. Saya tidak mau mengecewakan Sang Pencipta, membuat dia menyesal telah menciptakan saya di dunia ini hanya untuk menuh-menuhin galaksi aja (hehehe).

Di akhir tulisan ini jika saya ditanya lagi “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?” maka saya bisa menjawab dengan tegas..

SAYA INGIN TERUS BERKARYA & BERBAGI SAMPAI MATI.

goals

 

 

 

Passion Alert!!

What is my passion?

How to find my passion?

Dua pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sampe sekarang masih belum juga saya temuin jawabannya. Mungkin kamu juga mengalami hal yang sama. Makin banyak umur, makin kenceng itu pertanyaan “nguwing nguwing” dikepala. Semakin kenceng saya berusaha cari jawaban, malah saya semakin pusing. Banyak usaha yang saya lakukan untuk nemuin jawaban ini. Dari ikut talkshow Rene Suhardono, dengerin ceramah super Mario Teguh, baca-baca buku self motivation dan segala usaha lainnya. Tapi toh saya belum secara bulet nemuin jawaban diatas. Bersyukurlah kamu yang sudah tahu pasti apa passion-mu. Buat yang belum, janganlah bersedih hati karena kalian tidak sendiri. Hehehe.

Perjalanan mencari passion emang tidak gampang. Itu bukanlah perjalanan yang bisa dilakukan dalam “sebulan kelar” tapi itu perjalanan seumur hidup. Saya pun terus nyobain segala hal yang saya pikir “kayaknya saya suka” untuk dijajal sampe nantinya ditengah jalan saya berhenti karena bosan. You Never Know Until You Try, thats my motto. Tapi itu juga yang membuat saya terkesan setengah-tengah dalam berusaha (hehehe). Lingkungan tempat saya berada, dikelilingin oleh 2 tipe kategori manusia. Manusia yang bekerja sesuai dengan passion dan manusia yang bekerja karena memang kebutuhan financial. Dan saya hidup diantaranya, bekerja karena kebutuhan financial yang nantinya saya harap akan nemuin passion saya. Kepusingan nyari jawaban diatas akhirnya membuat saya berdamai dengan diri sendiri bahwa….

“Wed gak semua orang menelan secara bulet-bulet passion mereka.”

Bersyukurlah kamu yang sudah jelas (bulet sempurna) maunya jadi apa. Pengen jadi artis, jadi food blogger, jadi travel blogger, jadi illustrator, jadi fotografer, jadi fashion designer atau jadi apapun yang kamu mau, karena  tahu passionnya. Tapi buat saya atau kamu yang belum juga ketemu passion itu apa, jangan berkecil hati karena kita masih bisa menikmati perjalanan itu. Meskipun saya belum ketemu passion saya secara bulet, tapi saya bisa merasa tanda-tanda “alert” bahwa saya ada di-track yang benar untuk menemukannya.

  • Pekerjaan saya menambah pengetahuan dan skill.
  • Pekerjaan saya menambah networking atau pergaulan.
  • Pekerjaan saya menyediakan ruang untuk saya berekspresi dan berkreasi.

Tiga poin diatas menjadi pegangan saya saat ini, bahwa saya ada di jalan yang benar. Setahun lalu saya pernah mengajukan surat resign hanya karena saya bosan tiap hari harus kekantor dan berniat pengen punya usaha sendiri karena ikut-ikutan trend. Tapi akhirnya saya urungkan karena rasanya tidak adil buat diri saya sendiri jika saya melewatkan kesempatan yang ada didepan hanya karena kebosanan dan ikut-ikutan orang lain. Kamu jangan terburu-buru memutuskan untuk keluar dari kantor yang sekarang hanya karena bosan melakukan pekerjaan yang sama tiap hari, hanya karena iri melihat teman yang (kayaknya) sukses menjalani bisnis, hanya karena iri liat travel blogger yang selalu ketempat-tempat seru dengan (kayaknya) modal foto dan tulisan.

Pikirkan dan cerna baik-baik keputusan kalian dan coba liat alert diatas. Mungkin saja sebenarnya kamu sudah ditrack atau pekerjaan yang tepat tapi kamu belum sadar aja. Kalo kata mba Riana Bismarak “Gak semua orang harus jadi entrepreneur. Tapi jika kamu yakin kamu seorang entreprenuer lakukan dengan passion.” Nah jangan ambil keputusan resign dari kantor dengan tujuan pengen jadi entrepreneur yang lagi trend atau karena tempat kerja sekarang gajinya kecil. Jadi seorang entrepreneur dibutuhkan nekat dan nyali bukan hanya sekedar pengen dan ikut-ikutan. Dan coba liat lagi, mungkin saja ditempat kamu kerja sekarang meskipun gajinya kecil, tapi sebenernya kesempatan didepan terbuka lebar jika kamu tahu caranya. Buat saya misuh-misuh ditempat kerja karena problem pekerjaan atau teman kerja adalah hal wajar. Saya juga tidak bisa setiap hari jadi orang yang selalu ceria dan positif selalu. Jangan jadikan itu alasan untuk melewatkan kesempatan di depan. Coba renungkan lagi tiga poin diatas, jika memang ditempat sekarang bekerja kamu tidak mendapatkannya barulah berpikir untuk banting setir kebidang atau tempat kerja lain.

My last words, don’t try to be other person, just be the best version of you. Good luck.