PERTAMA KALI NYOBAIN SKINCARE KOREA!! REVIEW NEOGEN BIO-PEEL

Review Neogen Bio-Peel

Halo pemirsah!! (sambil bersihin debu) Apa kabar kalian di sana? Yaoloh lama banget rasanya saya gak nengokin ini blog. Dari jaman masih perawan dan sekarang udah jadi istri orang (hehehe). Banyak cerita yang mau saya bagi-bagi. Saking banyaknya mari dicicil satu-satu mulai dari review produk skincare Korea pertama (buat saya).

Alhamdulillah bulan Ramadhan ada aja rejeki yang dateng. Salah satunya berhasil ikutan project Clozette Indonesia X Neogen Dermatolology. Walhasil saya bisa nyobain beberapa product dari Neogen yang lagi hits banget dikalangan beauty enthusiast. Gimana enggak?! Semenjak trend musik, drama, & film Korea masuk ke Indonesia, warga lokal juga penasaran sama perawatan yang dilakuin orang Korea. Kenapa itu kulit mulus-mulus bener kayak pantat bayi.

Buat dapetin muka yang kinclong-kinclong kayak artis Korea, ternyata butuh perawatan yang gak biasa. Salah satunya merek yang lagi banyak diomongin adalah Neogen Dermalogy. Kenapa bisa diomongin? alasannya sederhana karena multifungsi. Kayak produk yang saya cobain Neogen Bio-Peel Gauze Peeling Wine.Neogen Bio-peel ini adalah produk buat ekfoliasi/ pengangkatan sel kulit mati yang bisa mencerahkan dan bikin wajah halus. Karena mengandung ekstrak anggur, saat dibuka kemasannya wangi anggur semerbak menghiasi seluruh ruangan (hasek).Cara aplikasi Bio-peel ini juga mudah banget, saya bisa make ini sambil nonton acara youtube paporit dong. Buat yang khawatir dengan tanda-tanda penuaan dini kayak keriput, kusam dan bintik hitam, bisa dicegah pake Neogen Bio-Peel secara rutin.

Lanjutkan membaca “PERTAMA KALI NYOBAIN SKINCARE KOREA!! REVIEW NEOGEN BIO-PEEL”

Buat kamu yang berusia 20-an, sebaiknya baca ini yah..

sebelum 30 - 1 (1)

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog Fee. Taste. Style khususnya perempuan yang lagi seru-serunya menikmati masa penuh kejutan di usia 20-an. Beberapa bulan lagi usia saya menanjak ke angka 30 (ehmmmm berumur banget yah). Fase usia dewasa yang katanya mulai serius mikirin hidup #tsaelah. Mungkin ada benernya juga kata orang-orang itu, karena di titik ini saya menanyakan “Udah ngapain aja sih wed selama ini?”. Dari pertanyaan itu, saya ketemu jawaban yang malah bikin saya nyinyir begini…

“Yaelah coba gue tahu ini lebih awal.”

Makanya dari itu pengen banget saya berbagi pengalaman ke kalian yang lagi happy-happy-nya. Siapa tahu lewat tulisan ini kamu jadi lebih mengerti apa yang sebaiknya kamu lakukan.

Lanjutkan membaca “Buat kamu yang berusia 20-an, sebaiknya baca ini yah..”

Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.

 

Processed with VSCOcam with a6 preset
It’s just a phase, smiling. 

 

Saya sedikit ingin bercerita latar belakang pengalaman untuk tulisan ini. Minggu lalu saya belajar hal baru sebagai freelance. Sudah hampir 5 bulan saya berstatus freelance, dan selama itu juga saya merasakan suka duka menjadi orang yang mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Untuk pertama kalinya selama saya bekerja di bidang audio visual, baru kali kemarin saya mengerti rasanya di PECAT DARI PROJEK oleh producer dengan alasan saya kurang kompeten. Kalimat dari producer yang bilang “Saya tidak cocok untuk projek ini” menjadi bahan evaluasi untuk saya setelah menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk meriset dan merangkai cerita untuk program TV. Sekedar informasi, projek yang saat itu saya kerjakan adalah Program TV Feature dokumenter dengan tema bisnis.

Saya dapat informasi ini dari seorang teman, dia merekomendasikan saya sebagai scriptwriter untuk projek temannya. Setelah bertemu produser dan memberikan karya yang pernah saya buat serta dijelaskan tentang program yang akan berjalan, dia mengajak saya bergabung menjadi bagian timnya. Walaupun saya belum pernah membuat karya dokumenter bertema bisnis tapi tantangan itu saya terima karena saya yakin semua bisa dipelajari.

Namun seiring waktu berjalan nampaknya Produser melihat hal lain. Setelah saya mengirimkan storyline dan juga beberapa pertanyaan untuk narasumber dia melihat saya kurang cocok untuk projek ini. Bukan cuma pacaran yang punya status “gantung” dipekerjaan pun bisa begitu. Selama dua minggu saya di “antepin” baik dari produser ataupun tim yang lain. Di masa menunggu itupun saya bertanya-tanya  “Apakah projek ini bermasalah?” atau “Ada masalah dengan saya?”. Sampai akhirnya ada whaspp dan saya diminta untuk bertemu di kantor……dan (simsalabim) saya diberhentikan.

Saya jadi teringat perkataan seorang kawan yang sangat saya hormati “Wed lo harus liat dunia di luar kantor. Di sini kerja nyaman banget buat lo, tapi di luar sana lo harus siap beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.” Tadinya saya gak ngerti apa yang dia maksud tapi rasanya sekarang saya paham.

Tidak saya tidak marah ataupun kecewa, ditulisan ini saya sekedar ingin mencerna dan mengevaluasi pengalaman yang telah terjadi. Baiklah saya akan membuat perbandingan rasa yang saya dapat pada saat di kantor dulu dengan pengalaman saya bekerja dari rumah.

Lanjutkan membaca “Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.”