“Jangan hukum aku bu!”

Beberapa minggu lalu, saya berpartisipasi dalam Kelas Kurikulum yang diadakan oleh Keluarga Kita  mengenai Disiplin Positif pada anak. Emang semenjak mengandung calon bayik, jadi punya ketertarikan dengan topik parenting. Buat jadi bahan persiapan sebelum si bayik lahir 😎. Berbekal googling soal “Apa itu keluarga kita” tanpa panjang lebar saya langsung daftar menjadi relawan dengan ikutan kelas kurikulum ini dan syukurnya diterima.

Di awal pertemuan, saya sudah dibuat melek dengen pertanyaan tentang “SIAPA YANG PERNAH DIHUKUM ORANG TUA!!” Sontak banyak peserta kelas yang tunjuk tangan dan berbagi cerita. Tampaknya ingatan soal cubitan, dan omelan gak lepas dari masa tumbuh kembang peserta di kelas. Lalu ketika ditanya “APAKAH KITA INGAT APA YANG MENYEBABKAN KITA DIHUKUM?” rata-rata kami semua terdiam, karena baru menyadari bahwa kami sebagian besar dari kami tidak tahu alasan kenapa kami dihukum 😓.

Hukuman seharusnya bertujuan menjadikan seseorang jera dan berperilaku lebih baik dari kesalahan sebelumnya. Tapi jika kita tidak ingat kesalahan apa yang kita lakukan sebelumnya, gimana caranya kita bisa memperbaiki kesalahan?

Di saat itu juga saya merasa “iya juga yah” selama masa kecil, saya hanya ingat hukuman yang diterima tanpa ingat kesalahan apa yang saya buat. Orang tua berusaha mendisiplinkan saya dengan cara memaksa dan mengontrol dengan cara menghukum. Sedikit demi sedikit saya mulai mencari benang merah tentang pola asuh yang diterapkan orang tua dengan karakter saya saat ini.

Disiplin diri anak dimulai dari hubungan yang kuat dan rasa percaya yang dalam. Tanpa modal ini, yang terjadi adalah kontrol bukan pemberdayaan; Pemaksaan, bukan pengembangan diri (Najelaa Shihab)

Jadi sebaiknya gimana cara mendisiplinkan anak yang baik dan tidak menyebabkan trauma berkepanjangan? Keluarga Kita membagi beberapa cara

SOGOKAN VS DUKUNGAN

Anak fokus pada faktor menyenangkan di uar dirinya (eksternal) Menumbuhkan kenikmatan dari dalam, berhubungan dengan diri anak (internal)
Melabeli anak secara global (walau positif) Spesifik, fokus pada perilaku & usaha
Dijanjikan sebelum perilaku, untuk mengontrol/ memanipulasi anak Spontan, ekspresi perasaan orang tua
Jumlah/reaksi diukur dan ditetapkan orang tua Disesuaikan dengan antusiasme anak
Diberikan hanya pada saat anak sukses Diberikan di berbagai situasi, termasuk saat kesulitan

Dari tabel perbandingan diatas bisa diambil contoh seperti ini, lebih baik berkata “Kamu bangun lebih pagi hari ini. Jadi bisa berangkat lebih cepat ke sekolah dan main sama teman-teman yah.” (Menumbuhkan kenikmatan dari dalam, berhubungan dengan diri anak (internal) )

Dibandingkan dengan “Kalo kamu bangun lebih pagi untuk sekolah, akan ibu bawakan bekal yang kamu mau yah.” (Anak fokus pada faktor menyenangkan di uar dirinya (eksternal))

Buat saya yang awam, dua kalimat diatas sebenarnya agak tipis bedanya. Saya yang terbiasa memberikan “iming-iming” ke anak kecil, baru sadar bahwa sering menggunakan bahasa yang salah. Pemilihan kata dan angle berbeda menjadikan kalimat itu punya arti beda juga. Saya baru menyadari sebegitu kuatnya pengaruh komunikasi pada tumbuh kembang anak-anak. Sebagai calon orang tua, saya harus berhati-hati memilih bahasa yang efektif dan tidak efektif.

kode voucher

Keluarga Kita mengajarkan juga 5 prinsip Cinta “Mencintai Dengan Lebih Baik”

C – Cari Cara

Keluarga kita mencintai dengan Cari Cara sepanjang masa pengasuhan adalah perjalanan jangka panjang. Cari cara dengan konsisten karena jalan pintas tidaklah efektif. Anak dan orang tua buth proses serta struktur berbeda pada tiap tahap perkembangan

I – Ingat Impian Tinggi

Keluarga kita mencintai dengang ingat impian tinggi. Orang tua selalu Ingat Impian Tinggi dan kecenderungan positif pada setiap anggota keluarga. Orang tua percaya anaknya mampu, sebelum anak membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dengan berhasil

N – Nerima Tanpa Drama

Ujian terberat jadi orangtua adalah mencintai anak dengan tulus, saat menghadapi tantangan dan alami tekanan emosi dalam keluarga. Menerima tanpa drama, memahami kebutuhan tanpa syarat dan menumbuhkan potensi tanpa kekerasan.

T – Tidak takut Salah

Jadi orangtua butuh terus belajar, tidak takut salah karena tidak ada keluarga yang sempurna. Refleksi dan adaptasi harus selalu dipraktikan sejak masa anak, karena siklus pengasuhan berpengaruh lintas generasi.

A – Asyik main bersama

Asyik main bersama dan humor perlu dilakukan bersungguh-sungguh. Interaksi hangat bagaikan candu. Kehadiran dan keterlibatan keluarga seharusnya jadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Banyak sekali hal yang saya pelajari dalam kelas berdurasi hampir 7 jam dan rasanya gak mungkin saya tuliskan semua di dalam satu post tulisan 😅. Yang terpenting saya jadi lebih mengerti tentang diri sendiri, dan memiliki sedikit bekal untuk nanti belajar bersama si calon bayik. Keluarga Kita terus mengadakan kelas parenting hampir setiap seminggu sekali ditempat yang berbeda-beda. Dalam dua minggu ke depan kelas akan diadakan wilayah Tangerang Selatan. Silahkan follow instagram dan web keluargakitaid untuk detail acaranya. Punya kisah tentang Keluarga Kita, yuk sharing di sini kasih link blog biar saya kunjungi balik ❤️

21910037_1942499606008971_3552693258150739968_n

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

4 tanggapan untuk ““Jangan hukum aku bu!””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s