Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.

 

Processed with VSCOcam with a6 preset
It’s just a phase, smiling. 

 

Saya sedikit ingin bercerita latar belakang pengalaman untuk tulisan ini. Minggu lalu saya belajar hal baru sebagai freelance. Sudah hampir 5 bulan saya berstatus freelance, dan selama itu juga saya merasakan suka duka menjadi orang yang mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Untuk pertama kalinya selama saya bekerja di bidang audio visual, baru kali kemarin saya mengerti rasanya di PECAT DARI PROJEK oleh producer dengan alasan saya kurang kompeten. Kalimat dari producer yang bilang “Saya tidak cocok untuk projek ini” menjadi bahan evaluasi untuk saya setelah menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk meriset dan merangkai cerita untuk program TV. Sekedar informasi, projek yang saat itu saya kerjakan adalah Program TV Feature dokumenter dengan tema bisnis.

Saya dapat informasi ini dari seorang teman, dia merekomendasikan saya sebagai scriptwriter untuk projek temannya. Setelah bertemu produser dan memberikan karya yang pernah saya buat serta dijelaskan tentang program yang akan berjalan, dia mengajak saya bergabung menjadi bagian timnya. Walaupun saya belum pernah membuat karya dokumenter bertema bisnis tapi tantangan itu saya terima karena saya yakin semua bisa dipelajari.

Namun seiring waktu berjalan nampaknya Produser melihat hal lain. Setelah saya mengirimkan storyline dan juga beberapa pertanyaan untuk narasumber dia melihat saya kurang cocok untuk projek ini. Bukan cuma pacaran yang punya status “gantung” dipekerjaan pun bisa begitu. Selama dua minggu saya di “antepin” baik dari produser ataupun tim yang lain. Di masa menunggu itupun saya bertanya-tanya  “Apakah projek ini bermasalah?” atau “Ada masalah dengan saya?”. Sampai akhirnya ada whaspp dan saya diminta untuk bertemu di kantor……dan (simsalabim) saya diberhentikan.

Saya jadi teringat perkataan seorang kawan yang sangat saya hormati “Wed lo harus liat dunia di luar kantor. Di sini kerja nyaman banget buat lo, tapi di luar sana lo harus siap beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.” Tadinya saya gak ngerti apa yang dia maksud tapi rasanya sekarang saya paham.

Tidak saya tidak marah ataupun kecewa, ditulisan ini saya sekedar ingin mencerna dan mengevaluasi pengalaman yang telah terjadi. Baiklah saya akan membuat perbandingan rasa yang saya dapat pada saat di kantor dulu dengan pengalaman saya bekerja dari rumah.

1. Ada partner diskusi X Mikir sendiri

Ternyata punya partner diskusi adalah hal yang harus disyukuri. Di kantor, saya bisa berbagi ide dengan banyak orang. Saya punya Creative Director yang lebih mengerti dan punya ilmu yang tepat bagaimana seharusnya ide itu dibuat dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan klien. Dia banyak memberikan evaluasi dari kerangka cerita yang coba saya bangun. Dari situ imajinasi saya diarahkan untuk tetap kreatif di koridor yang sesuai target market.

Sebagai orang yang mem-branding diri Creative Writer pastilah kerjaan yang dateng adalah perihal tulis menulis ide kreatif audio visual. Dan mencari ide kreatif itu sebenernya gak bisa dilakuin sendiri, harus ramean, keroyokan. Bisa saja ide awal berasal dari kepala saya tapi harus ada kepala lain yang menyanggah, mengevaluasi dan mengembangkan ide dengan data dan pengalaman agar sesuai dengan tujuan awal pembuatan video.

Dan sayangnya saat memutuskan bekerja sendiri, tidak semua tim bisa menjadi partner diskusi kreatif saya. Mereka mengharapkan ide yang sudah sesuai brief untuk bisa disuguhkan kehadapan klien. Seringkali mereka hanya bilang “Ceritanya tuh kurang greget.” tanpa memberikan solusi apa yang kurang dan harus ditambahkan biar greget. Dan yah akhirnya saya yang harus mikir sendiri maksudnya “Kurang greget itu apa?”. 

Atau bisa saja itu pertanda, bahwa sebenernya saya belum bisa disebut sebagai Creative Writer karena belum bisa mikir sendiri tanpa support dari tim? tapi bukankah sebuah agency periklanan pun membutuhkan kerja tim untuk membuat ide kreatif?

2. Tim sama X Tim gonta-ganti

Partner bekerja “in house” selama 5 tahun ya itu itu aja tidak banyak berubah. Sedikit banyak saya mengerti karakter atasan dan partner kerja. Karena sudah saling mengerti, alur kerja pun jadi terasa lancar kalo pun ada yang “kurang sesuai” tinggal saling menegur dan mengarahkan.

Saat ini, saya bekerja dengan tim yang bergonta ganti setiap projek, tergantung tim mana yang merekrut. Ada tim yang memang sudah saya kenal sebelumnya ada juga dengan tim yang baru saya kenal karena rekomendasi. Setiap masuk ke lingkungan baru saya selalu pasang wajah “Iwed yang menyenangkan & senang bergaul” sambil menilai karakter masing-masing orang di dalam tim. Beberapa kali saya dihadapkan pada orang yang attitude kerjanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Jika sudah seperti itu saya tidak punya hak untuk mengevaluasi. Walhasil saya hanya harus berkompromi dan berusaha mengerjakan apa yang sudah jadi tugas saya sebaik-baiknya.

3. Kesempatan lagi X Gak di-calling lagi

Jika di tempat kamu bekerja sekarang kamu sering diberikan kesempatan untuk mengerjakan hal yang  “rasanya” bukan job desk-mu sebaiknya terima itu sebagai kesempatan. Kantormu bukan memanfaatkan pikiran dan tenagamu tapi mereka sedang mempersiapkan dirimu untuk melakukan tugas yang lebih besar. Mengeluh akan tugas yang terlalu banyak adalah wajar tapi jangan menyerah karena ada ilmu dan pengalaman yang bagus dari balik tumpukan pekerjaan yang gak kunjung kelar. Manfaatkan kesempatan itu untuk berkembang dan belajar semampu yang kamu bisa karena mereka peduli. Selama saya belajar di kantor terdahulu, saya terus-terusan dicekokin kerjaan macem-macem. Sampe saya bingung saya ini sebenernya kerja apa. Tapi sekarang saya mengerti bahwa saya sedang diberi kesempatan untuk mencari jati diri pekerjaan yang cocok dengan saya.

Di dunia freelance, jika kerjaan kamu dirasa gak sesuai dengan ekspektasi orang yang merekrutmu, maka gak akan ada lagi calling-an pekerjaan dari orang yang sama. Kamu gak akan bisa mengevaluasi diri karena mereka memang gak peduli denganmu. kamu bekerja dalam sebuah Industri yang mengatasnamakan bisnis. Jika kamu tidak cocok dengan bisnis mereka yaudah bye bye ajah.

4. Tanggal gajian pasti X Tanggal bayaran gak pasti

Yes ini penting, niat bekerja selain buat berkarya pastilah juga untuk memenuhi kebutuhan akan gaya hidup. Dengan status sebagai karyawan tetap pastilah penghasilan akan diterima tiap bulan di tanggal yang sama. Paling tidak jika kita ingin belanja kita bisa mengira-ngira “kan gajian gue tinggal 3 hari lagi, bisalah pake kartu kredit.” Meskipun nominal gajian kita gak sampe 2 digit tapi karena kontiniti setiap bulan kita masih bisa berharap untuk punya tabungan.

Jika sudah memutuskan bekerja sendiri, harus siap dengan resiko GAK ADA GAJIAN TIAP BULAN. Pemasukan tidak berbanding lurus dengan jumlah pekerjaan tiap bulannya. Misalnya saja bulan ini ada dua projek yang dikerjain tapi jangan harap kamu dapat bayaran di bulan ini juga. Bisa jadi bayarannya sebulan lagi, dua bulan lagi bahkan berbulan-bulan. Meskipun nominal bayaran tiap projek melebihi gajian tiap bulan tapi karena tanggal pembayarannya gak jelas jadi harus lebih hati-hati kalo mau belanja ina inu. Harus belajar mengatur keuangan dengan baik.

Sebaiknya minta kontrak tertulis dan ajukan timeline pembayaran sebelum menerima pekerjaan kepada produser. Jika ada perjanjian tertulis baik hardcopy, email, atau whaspp antara kamu dan produser, ini bisa jadi bukti ke bagian keuangan untuk mengeluarkan pembayaran. Biasanya PH atau Agency yang mempekerjakan kita sering berkilah dengan alasan “Belum dibayar klien” saat kita mengajukan invoice tanda bukti pekerjaan kita telah selesai. Yah setidaknya begitulah yang saya rasakan di industri kreatif audio visual ini.

Dengan beragam cerita suka dan duka sungguh saya tidak menyesali keputusan saya untuk freelance. Tiap hari otak saya dipaksa untuk berpikir bagaimana cara mengisi hidup tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup. Dan dari pengalaman kemarin saya bertanya kembali, “Apa benar kalo saya tidak cocok menulis video dokumenter?” Hmmmm entahlah tapi yang pasti saya tidak berkenan jika orang lain mengatakan TIDAK MAMPU kepada saya di saat Tuhan memberikan saya kemampuan yang baik.

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

6 thoughts on “Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.”

  1. Bener banget mbaaa, saya udah lahiran gakan kerja di luar dulu tapi Ahamdulillah rezeki lancar jaya, gudlak.juga mba

    1. Yang penting berserah diri sama Yang Punya Rejeki yah mba. Gudluck to you..makasih udah menghujani aku dengan kehadiranmu diblog aku. Love banget deh. Aku pengen gambar-gambar lagi ngeliat ilustarsimu lucuk lucuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s