Ketika Hidup Banyak Syarat

“Gue bakal daftar beasiswa itu, kalo gue udah resign dari kerjaan.”

“Tenang aja gue pasti bakal nyelesain buku itu kok, kalo udah gak sibuk.”

Sering gak sih denger kalimat diatas? keduanya punya template yang sama kayak gini, Saya akan + Kalo = Harapan yang gak kejadian. Gak ada yang salah dengan formula ini, tapi rasanya akan salah apabila kata “kalo” itu gak segera kejadian, yang artinya kalimat yang pertama pun juga agak akan kejadian. Kalimat setelah kata “kalo” adalah kondisi ideal yang kita harapkan akan terjadi. Setelah kondisi ini tercapai barulah kondisi di kalimat pertama akan mungkin terjadi. Tapi pada kenyataannya, pun jika kondisi di kalimat kedua sudah terjadi belum tentu juga kalimat pertama akan dikerjakan. Iya kan?!

Sering kali kita menaruh syarat terhadap apa yang pengen kita lakukan dengan menunggu sampai kondisinya ideal. Misalnya seperti ini, “gue akan mulai lari pagi kalo gue punya sport gear yang keren.” Punya sport gear yang keren adaah syarat yang kita buat sendiri untuk rencana-rencana hidup kita. Tapi kejadiannya di lapangan meskipun kita udah punya sepatu running terbaru, belum tentu juga kita bakal rajin lari pagi. Yah mungkin diawal-awal semangatnya membara, tapi lewat sebulan…hmmm lupa sama janji lari pagi.

Ini sebenarnya yang sedang saya alami. Sekedar kalian tahu saja, setelah drama yang berkepanjangan akhirnya bulan Maret lalu saya resmi resign  dari kantor pertama saya. Sebelum saya memutuskan resign, banyak sekali rencana-rencana yang ingin saya lakukan “nanti jika saya sudah berstatus sebagai freelance”. Diantaranya; pengen punya clothing line, pengen rajin nge-blog, pengen ngembangin komunitas ABC, pengen bisa nyetir mobil, pengen jalan-jalan, pengen mahir main gitar, pengen mahir english, dan masih banyak rentetan pengen lainnya. Tadinya semua kepengenan itu terasa jelas di kepala. Saya bagaikan orang yang sangat produktif karena tetap membuat target-target yang realistis dijalani jika sudah menjadi seorang freelance.

Tapi pada kenyataannya, setelah hampir 3 bulan saya berstatus freelance, belum ada kepengenan itu satu pun yang terjadi (hahaha). Pengen rasanya nempeleng kepala sendiri dan bilang “bego lo” – pake gaya bahasa tetris-. Yes saya menyadari kalo saya menjalani hidup ini dengan terlalu banyak syarat. Syarat yang mempersulit saya sendiri hingga akhirnya malah jalan ditempat. Misalnya saja begini, “gue akan mulai nulis blog kalo gue punya koneksi internet di rumah yang kenceng dan juga working space yang kayak di pinterest gituh.”  Kenyataannya preett. Nungguin rumah saya dapet koneksi internet nirkabel sama seperti nungguin adek saya mandi, lamaaaaaaaa. Udah nelpon CS internet provider dari sebulan yang lalu, sampe sekarang gak ada tanggapan sama sekali. Terus nungguin saya punya working space ala-ala pinterest gitu sama aja ngablu-nya. Bukan gak mungkin sih tapi it takes very long time aja biar itu terwujud apalagi dengan kondisi kamar yang sepetak dan barang yang bejubel, preett kok ya sama pesimis.

 

e4435cabf7f6c5fc6623de7d2571f31c

Akhirnya saya berpikir realistis, jika kedua syarat itu gak terjadi maka ujung-ujungnya saya gak bakal nulis-nulis blog. Saya menyadari bahwa intinya kan bukan koneksi internet dan working space-nya tapi nulis blog nya itu yang jadi target saya. Setelah berbulan-bulan akhirnya saya sadar juga untuk menghilangkan syarat-syarat itu (hehehe), dan yeayyy muncullah tulisan ini (kok ya lama banget Wed sadarnya). Hanya berbekal koneksi internet dari hp dengan posisi ngelonjor di kamar yang sepetak, kemudian mejik saya pun bisa menulis (hahaha). Saya baru berhasil mengerjakan satu dari rencana kepengenan bersyarat yang lain. Semoga saja saya konsisten, hehehe.

Intinya dari tulisan ini, sering kali kita terlalu banyak memberikan syarat terhadap hal yang kita senangi. Sampai akhirnya kita terlalu fokus untuk mewujudkan syarat tersebut dan lupa akan hal yang bikin kita happy. Kalo udah kayak gitu sebaiknya kita step back dulu dan tanya lagi reason kenapa kita kepengen mengerjakan hal itu. Jika kita honest, dengan sendirinya hidup gak perlu syarat untuk dijalani. Ketika hidup kebanyakan syarat, yang ada kita jalan ditempat.

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

4 thoughts on “Ketika Hidup Banyak Syarat”

  1. Gilaaaak Mbak ._. itu kalimat di awal menusuk banget sih sebenernya. Dan bener, banyak orang yang seolah menyaratkan dirinya sendiri. Saya Akan + Kalau. Itu. dan kadang kalaunya itu agak ‘ketinggian’ sampai akhirnya yang Saya Akan itu nggak dilakuin. Yaaaah, gimanaaa ya ._.

    Eng… tapi akhirnya kamu bisa keluar dari Saya Akan + Kalau itu ya 😀 uwuwuw semangaaat mbak 😀 yuuuuk memulai 😀 satu dulu. Satu persatu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s