Singapura ibarat kamar display Ikea

  
Kamis lalu akhirnya saya punya alasan untuk ke luar negri, mengisi paspor yang sudah dua tahun gak ada cap-nya. Saya sangat excited dapat kesempatan ke Singapura tidak hanya karena alasan berlibur tapi juga bekerja. Majalah gadis ngasih saya kesempatan untuk meliput festival musik Sundown Festival di Marina Promenade. Acara tahunan Singapura dalam rangka promosi band-band di Asia.
Saya makin girang karena yang jadi band penutup festival adalah band rapper Korea paporit saya Epik High. Wuhuuuu.

Ditulisan ini saya tidak membahas soal festival (yang mana Epik High selalu epic disetiap tampilannya) tapi saya mau beropini sebagai orang yang baru pertama kali ke Singapura.

Saya hanya punya kesempatan menikmati Singapura selama 4 hari 3 malam, itupun dengan agenda kerja (liputan festival musik) jadi saya tidak punya banyak waktu untuk eksplorasi Singapura. So it’s just my subjective opinion yah. Kalo gak setuju yaudah sih dibawa santai ajah. Hehehe.

World citizen
Sebelum berangkat ke Singapura, saya tidak banyak mencari tahu soal tempat wisata disana. Saya mengandalkan temen (rarambol) yang emang sudah sering pelesiran ke luar negri. Dan ini adalah 3 kalinya dia ke Singapura, jadi yaaa saya depend on her. Saya pengen tahu surprise apa yang dikasih buat saya.

  

Saat pertama kali sampai di bandara Changi, saya terkesima dengan begitu beragamnya jenis manusia. Orang bule, orang asia, orang india, dan banyak orang-orang lainnya. Kuping saya dibikin pusing mencerna beragam jenis bahasa yang keluar dari mulut mereka. Gak paham. Disini saya sadar bahwa ternyata saya adalah bagian dari masyarakat dunia. Selama ini saya cuma tahu Indonesia aja, itupun juga cuma sebagian kecil Indonesia. Saya terbiasa menjadi mayoritas di negara sendiri dan ketika melihat keberagaman di bandara Changi, saya tertegun menjadi kaum minoritas (meskipun banyak juga orang Indonesia disana). Melihat kondisi ini saya bertanya “Apakah saya sudah siap menjadi bagian masyarakat dunia?”.



Apalagi saat ini masyarakat Asean sedang menggalakkan SME. Gak lama lagi (bahkan memang sudah terjadi) warga Asean sangat mudah untuk mendapatkan akses antar negara di Asean baik itu bisnis, ekonomi, pendidikan, dan SDM. Persaingan tidak lagi hanya antara orang Indonesia saja, tapi saya juga akan bersaing dengan warga Asean. Mereka sangat mudah ke Indonesia, begitu juga sebaliknya. Bertanya lagi “Siapkah saya bersaing dengan mereka?”

Fasilitas
Semua yang ada di Singapura, tertata sangat rapih, pih pih. Kayaknya gak ada celah untuk komplain soal fasilitas disana. Jalanan, bangunan, transportasi publik, penunjuk jalan, tong sampah, semua tersusun sangat rapih. Semua seperti sangat dipikirkan matang. Kalo kata mba Wawa, Singapura itu layaknya kota di game Simcity, rapihhhhh bener. Semua dapat diakses dengan mudah, nyaman dan aman. Di Jakarta, pulang kantor jam 11 malam naik bis pasti agak horor yang (apalagi cewek) tapi disana biasa aja. Gak ada rasa khawatir bakal kecopetan atau digodain mas-mas pinggir jalan. Semua orang terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan pohon-pohon disana juga terdata, kapan harus dipotong kapan harus ditebang (kata bos saya). Itulah mengapa selama perjalanan pohon-pohon menjadi objek perhatian saya.
Gak usah khawatir nyasar disana, karena informasi mau kemana, naik apa semua dapat diakses dengan mudah. Saking mudahnya sampe saya ngeras kalo nanya jalan ke orang itu akan sangat memalukan. Ekspresi orang yang kita tanya seolah berkata “Hei, lo cari aja di internet atau baca peta. Semua udah jelas disana. Bodo banget sih!!.” Malu buat nanya orang.  
Tapi entah mengapa dengan segala kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan Singapura, dia tidak memberikan rasa deg deg an di saya. Maksudnya gini, Singapura gak ngasih denyut di jantung ini (asek). Kehidupan disana gak pumping (meskipun semua orang jalannya cepet), gak bikin saya bergairah dan semangat (kecuali buat nonton konser yah). Saya mengibaratkan Singapura seperti kamar display Ikea. Iya bagus, rasanya pengen punya kamar yang kayak di Ikea dengan segala furniture nya.

Tapi ya gitu, saya tetep gak mau tidur atau tinggal di kamar display Ikea. Karena mereka cuma display, kaku dan tidak menunjukan kepribadian dari pemilik kamar (karena gak ada yang tinggal di display room Ikea juga).
Saya lebih suka tidur di kamar rumah, meskipun sempit, penuh barang dan berantakan, tapi kamar saya ngasih energi setiap saya bangun tidur. Ngasih harapan dan gairah untuk menjalani hari. Layaknya Jakarta.

Sedangkan Singapura meskipun cantik tapi gak ada nyawanya, plastik seperti manekin. Singapura memang cocok untuk pelesiran masyarakat urban sebagai weekend gateaway saja. Tapi untuk keseharian, saya tetap memilih Jakarta (kecuali ada tawaran kerja dengan gaji yang sesuai di Singapura, saya sih gak nolak, hehehe). Singapura ibarat (lagi) seperti hutan beton. Banyak gedung tinggi menjulang tapi gak ada orangnya. Orangnya dikit banget. Mending warga Jakarta sumbangin deh ke Singapura, biar lebih bergairah dan dinamis gitu hidup disana (hehehe).
Though saya tetep akan merencanakan balik lagi ke Singapura, mencari denyut nadi yang mungkin emang belum berasa aja, karena waktu kurang banyak. Yang pasti kalo kesana lagi, saya harus bawa perlengkapan jogging. Ngiri ngeliat bule-bule yang bisa lari jam 11 siang tanpa khawatir dengan polusi udara.

Iklan

4 thoughts on “Singapura ibarat kamar display Ikea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s