Firasat?

Hari Rabu sekitar pukul 10 pagi, jadi saat yang mengagetkan buat Arya, teman kantor dibagian supporting produksi.  Arya segera menaiki Byson sesaat setelah menerima telpon bahwa istrinya jatuh pingsan dengan wajah membiru di rumah Sukabumi. Sedangkan saya, baru saja sampai kantor melepas helm sambil berpesan “Semoga bukan karena masalah sebelumnya yah!” kepada Arya. “Kalo ternyata karena dia, saya gak akan sabar kali ini mba.” Arya menanggapi sambil tersenyum dan berlalu.

Bukan kabar baru kalo istri Arya memang sering sakit-sakitan beberapa tahun belakangan. Penyebabnya, Arya menduga dari teman yang “iseng” karena tidak suka kembang desa itu menikah dengan Arya. Dugaan ini bukan tanpa alasan, pernah suatu kali istri Arya menderita gatal di bagian kaki yang makin lama menjadi (maaf) borok yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter. Justur penyakit itu segera sembuh tak lama istri Arya dibawa ke orang “pintar” di desanya. Orang “pintar” menyarankan agar istri Arya keluar dari desa untuk sementara waktu jika ingin jauh dari keisengan orang (entah siapa) di desanya. Semenjak istri Arya tinggal di Jakarta untuk beberapa waktu, dia bisa hidup dengan tenang tanpa ada penyakit aneh-aneh yang diderita.

Meskipun secara fisik dia sehat tapi nyatanya hatinya tidak tenang mengingat Sekar, gadis kecil usia 6 tahun yang ditinggal di Sukabumi bersama mertuanya. Sekar memilih tetap di desa karena tidak betah dengan kondisi gang Jakarta lagipula dia gak bisa ninggalin sekolah. Jadi selama di Jakarta, istri Arya hanya dirumah menunggu kepulangan suaminya tanpa ada kegiatan yang berarti. Wajarlah kalo dia akhirnya memutuskan kembali ke Sukabumi dengan alasan fisik yang membaik dan rasa rindu kepada buah hati. Meskipun tidak yakin toh Arya tidak bisa menolak kemauan istrinya.

Sekitar jam 1 siang dihari yang sama, penghuni kantor dihebohkan dengan berita bahwa istri Arya telah meninggal dari kakaknya Arya. Kami segera mengatur rencana untuk melayat kerumah duka di Sukabumi. Kami berpesan untuk tidak satu orang pun mengirimkan berita ini ke whatsaap grup, karena kami tahu saat itu Arya masih diperjalanan menuju Sukabumi dan dia belum tahu tentang kabar ini. Kamipun sampai di rumah Arya setelah 6 jam perjalanan. Jakarta – Sukabumi itu gak jauh, tapi maklumlah terjebak macet karena ikut arus orang yang berlibur imlek.

Arya itu tipe orang yang ramah dan banyak senyum. Saat menyambut kamipun dia tetap tersenyum walaupun jelas ada yang beda di matanya. Kantung matanya terlihat lebih besar, pasti karena menangis. Saat bercerita tentang kejadian duka iini, dia berusaha tegar mesti sekali kali dia menutup matanya berusaha menahan airmata. Sayapun melontarkan pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh reporter infotaiment tivi jika ada kejadian duka “Ada firasat dari almarhum?”. Awalnya Arya kurang yakin apakah ia punya firasat akan kehilangan istrinya. Setelah dia mengingat kembali obrolan mereka 10 hari yang lalu saat terakhir bertemu, Sang Istri pernah berpesan kepada Arya untuk menjaga anaknya jika suatu saat ia meninggal lebih dulu. Arya menanggapi seperti biasa tanpa ada dugaan, karena obrolan semacam itu sudah seringkali mereka bicarakan mengingat kondisi istri yang sering sakit hampir sekarat. “Mungkin itu firasat dari dia.” 

Saya jadi bertanya-tanya soal firasat ini,

“Apakah memang orang yang akan meninggal mempunyai tanda/firasat bahwa ia akan meninggal?sehingga mereka dapat menyampaikan pesan tersirat kepada orang yang akan ditinggalkan?”

“Apa yang dirasakan orang jika tahu bahwa ia akan meninggal? Apakah mereka tidak histeris?”

“Apakah mereka yang akan meninggal selalu bertingkah berbeda tidak seperti biasanya?”

Jawaban dari pertanyaan ini masih misteri untuk saya. Saya tahu bahwa semua manusia pasti akan mati, dan hanya Dia yang Maha Mengetahui akan takdir manusia. Peristiwa kematian hanya dimaknai sebatas berpindah tempat, yaitu dari kehidupan di dunia kemudian beralih ke alam kubur dan berlanjut ke alam yang lebih kekal, yaitu akherat (wawasanislam). Namun jika ada pengetahuan tentang firasat kematian, mungkin akan menjadi ilmu yang sangat berguna sehingga jika saya bertingkah tidak seperti biasanya, saya tahu apakah ini bertanda saya akan mati atau saya sedang jatuh cinta.

Selamat jalan Istri Arya Tercinta, meskipun kita tidak pernah bertemu tapi saya merasa sudah mengenalmu dari kisah manis yang selalu diceritakan Arya saat istirahat makan siang. Semoga ragamu tenang dikubur sana dan hatimu bahagia terlepas dari ujian dunia. Saya yakin cinta dan kasih sayangmu mempunya tempat yang istimewa di hati Arya & Sekar.

40020fe56d49ad24317f26de3e01344c

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

9 thoughts on “Firasat?”

  1. innalillahiwainnalillahirojiun… semoga tenang disisi-Nya

    kalau aku pernah dikasih tau, bahwa 40 hari sebelum meninggal dunia kita tau kalau kita akan meninggal dunia. itu sih yg pernah saya dengar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s