Hargai Teman Wanitamu

Tulisan ini saya tujukan untuk dia yang mengaku teman (lelaki) yang membuat saya menangis karena lelucon bodohnya. Seorang teman tidak sebaiknya mengeluarkan kata-kata yang dia anggap ‘bercanda’ untuk memojokan teman apalagi jika dia seorang wanita. Dan juga untuk mereka (laki-laki) yang sering menjadikan teman wanita sebagai objek lelucon sexual antar teman laki-laki.

Beberapa waktu lalu saya pergi liburan bersama beberapa teman laki-laki yang saya kenal lewat komunitas foto. Bagi saya pergi berlibur dengan teman laki-laki adalah hal biasa karena semenjak SMA memang saya lebih banyak berteman dengan laki-laki. Tapi berlibur bersama mereka pertama kalinya, meskipun kami sudah sering main bareng selama kurang lebih 3 tahun. Perginya pun gak jauh-jauh sekedar wisata kuliner di wilayah Bogor selama 2 hari sambil menginap di rumah peristirahatan teman kisaran Puncak. Awalnya saya merasa excited karena sudah lama memang saya ingin liburan bersama tapi gak pernah jadi karena jadwal kerjaan yang gak cocok.

Diantara pertemanan kami berlima, ada satu orang teman (A) yang menjadi center dari kelompok. Dalam satu kelompok pasti selalu ada 1 atau 2 orang yang jadi badutnya. Mereka adalah orang yang suka meramaikan suasana dan bikin ngumpul jadi seru atau biasa disebut Sanguine, nah itulah karakter si A. Kalo ngumpul, teman A tipe orang yang suka bikin lelucon tapi sayangnya topik lelucon yang sering dia angkat mengenai sexual, yes tipikal obrolan laki-laki.  Jika lelucon ini hanya terjadi diantara obrolan laki-laki saja saya tidak akan mempermasalahkannya tapi sayangnya saya seringkali menjadi objek lelucon sexual si A. Dan jika itu terjadi saya hanya bisa membalas dengan senyum ataupun membalikan lelucon tersebut. Meskipun dalam hati saya sering merasa sakit hati dengan perkataanya.

The NSPCC has defined sexual bullying as “any bullying behaviour, whether physical or non-physical, that is based on a person’s sexuality or gender. It is when sexuality or gender is used as a weapon by boys or girls towards other boys or girls – although it is more commonly directed at girls. It can be carried out to a person’s face, behind their back or through the use of technology

Saya pernah bertanya secara pribadi kenapa dia sering menjadikan saya objek lelucon sexual diantara mereka. Dan dia memberikan jawaban yang menurut saya bodoh “Gue kalo bukan temen deket gak bakal bisa kayak gitu!”. Saat itupun saya mengutarakan bahwa saya tidak suka dijadikan bahan leluconnya hanya karena dia ingin meramaikan suasana ngumpul. Saat liburan ternyata saya sangat naif berpikir bahwa dia akan mengingat ucapan saya, karena ternyata selama dua hari dia tetap saja menjadikan saya sebagai objek lelucon yang semakin menjadi-jadi.

Sebagai contoh, dia menunjukan video wanita yang sedang makan pisang seolah wanita tersebut sedang melakukan oral sex sambil berkata “Lo bisa gak kayak gini?”. DAMN!! saat itu saya tidak bisa berkutik karena kami sedang berada di mobil menuju Puncak dan saya pun hanya tertawa. Sedangkan teman yang lain seneng-seneng aja secara cowok. Mungkin jika dia mengeluarkan lelucon itu saat masih SMA atapun kuliah saya akan maklumin. Bahkan saya merasa teman laki-laki saya saat SMA dan kuliah tidak pernah menjadikan teman wanita lainnya sebagai lelucon mereka. Sangat disayangkan betapa bodoh dan gak dewasanya jika masih mengandalkan sexual joke sebagai andalannya.

Di hari pertama liburan saya hanya bisa senyum dan tertawa jika dia mulai bertingkah berharap saya bisa bicara empat mata (lagi) di hari kedua tentang ulahnya itu. Tapi sampai hari kedua saya terlanjur kena mood swing sepanjang hari mood saya jelek. Saat A mulai bertingkah saya tidak lagi tersenyum tapi saya misahin diri dari mereka dan nangis sendirian di mushola (untung lagi gak ada orang). Setelah puas nangis (maaf kalo drama) akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa si A bukanlah teman yang baik. Lebih baik memisahkan diri dari kerumunan jika ada A diantara mereka toh teman laki-laki bukan dia saja.

Bagi kalian para laki-laki mending cari joke yang lebih pintar dibanding menjadikan teman wanita kalian sebagai sexual joke. Karena sepintar-pintarnya lelaki bakal keliatan bodoh kalo bencandaanya masih kayak gitu.  Se-asik-asiknya teman wanita kalian dia tetaplah wanita yang perasaanya lembut. Lelucon macam gitu sebaiknya obrolan antara cowok aja, jika ada wanita diantara kalian you better watch your mouth!!. Sebelum ngoceh coba bayangin jika lelucon itu terjadi ke kakak atau adik kalian, pasti rasanya gak enak.

Dan untuk para wanita, jika punya pengalaman seperti saya, sebaiknya bicara personal terlebih dulu dengan yang bersangkutan berharap dia bisa ngerubah sikapnya. Tapi kalo itu orang “tambeng” (keras kepala) ya udahlah jauhin aja, gak penting juga orang kayak gitu. Terus coba ceritakan hal ini ke abang atau adik laki-laki kita untuk tidak melakukan hal yang sama ke teman wanita mereka. Agar tidak lebih banyak wanita yang senyum-senyum aja padahal memendam perasaan sedih. Namun jika kalian mengalami sexual bullying secara fisik ataupun non-fisik (yang sudah tidak bisa ditolerir) sebaiknya segera mengadukan ke Komnas Perempuan.

#Feel

Iklan

4 thoughts on “Hargai Teman Wanitamu

  1. Weeeeed, ini tulisan unek-unek yang keluar dari hati kamu 😦 Tapi Alhamdulillah kamu jadi ditunjukin kalau dia emang bukan cowok yang baik untuk dijadikan teman dekat.

  2. waduuuh waduuuuh… lelaki yang seperti ini gak bisa dimaafkan 😦
    kadang mereka (lelaki) memang sering keterlaluan saat bercanda. Semoga tidak dipertemukan dengan lelaki2 yg seperti itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s