Traveller “Niat”

Banyak orang yang mengira kalo saya orangnya sering travel ala backpaker karena melihat kepribadian saya. To be honest saya tipe orang yang jarang travel backpaker apalagi travel sendirian. Kalo foto instagram saya lagi jalan-jalan itu tandanya saya lagi kerja keluar kantor. Hampir 90% saya bisa jalan-jalan karena urusan kerja. Kalo disuruh travel sendiri, eitss nanti dulu. Layaknya orang awam yang jarang travel, saya punya banyak banget alasan untuk gak travel. Dari mulai budgetlah, waktulah, gak ada temenlah, takutlah, tripnya gak asiklah dan lah lah yang lain. Yup dibalik penampilan cuek, saya ini orang yang penuh pertimbangan alias plin-plan alias ragu-ragu. Tapi keragu-raguan saya tentang travel mulai berubah beberapa minggu lalu saat saya jalan sendiri ke Bandung dengan niat eksis di Pasar Seni ITB.

Minggu tanggal 23 November lalu di Bandung ada acara hits banget se Asia Tenggara, Pasar Seni ITB. Acara yang digelar 4 tahuan ini jadi ajang anak seni ITB untuk unjuk gigi. Sebulan sebelum acara, bos saya woro-woro tentang pasar seni. Maklumlah ini acara almamaternya jadi promosinya sangat menggebu gebu. Promosi bos, berhasil memancing rasa penasarannya saya. Karena gak mungkin bareng bos (pasti dia nimbrung sama temen-temennya) mulailah saya sibuk mencari teman seminggu sebelum acaranya. Kebetulan teman dekat saat kuliah (To) lagi di Bandung. Jadilah saya janjian untuk ketemu sama To di ITB. Dari Jakarta saya berangkat sendiri, dan kereta jadi pilihan karena saya belum pernah naik kereta kebandung. Hehehehe.

Saya berangkat jam 5 pagi dari Gambir dengan kereta Argo Parahayang tiket eksekutif seharga 112.000 yang saya pesan online. Saat di Gambir gak nyangka ternyata saya bertemu teman dikomunitas foto (Ko & Ham) depan loket kereta. Senangnya bukan main karena ternyata mereka juga berniat ke pasar seni dan kumpul dengan komunitas hand lettering disana. Meskipun beda gerbong, tapi saya senang karena ada teman saat nanti turun dari kereta. Saat perjalanan, saya mendapat kenalan baru, Pak Wanto namanya. Beliau bekerja di Adira Bali dan sedang merencanakan berlibur dirumah orang tua di Bandung. Bermula dari saling menyapa (karena sama-sama jalan sendiri) obrolan kami cukup nyambung juga. Apalagi ternyata beliau mengenal klien kantor. Pengetahuan saya bertambah setelah ngobrol 3 jam dengan pak Wanto. Saya jadi tahu kalo di Bali posisi pawang hujan sudah tergantikan dengan sinar laser yang ditembak ke langit untuk menggeser awan. Kalo sudah malam sabtu dan malam minggu, sinar laser banyak terlihat dilangit Bali. Ternyata itu bukan sekedar hiasan, tapi berfungsi sebagai penangkal hujan. Kalo ditanya kok bisa, saya juga gak tahu baiknya tanya google aja yang lebih pinter. Hehehe.

photo 3

Sampai di stasiun saya ngikutan rombongan Ko & Ham dan berkenalan dengan komunitas hand lettering. Mereka cowok-cowok bandung yang sangat menyenangkan. Sering liat iklan U mild yang versi “cowok itu kerja gak harus dikantor”?! Nah saya merasa mereka seperti itu. Mereka kebanyakan adalah designer & illustration yang bebas mau kerja dimana aja. Klien mereka bukan hanya brand dalam negeri tapi juga luar negri. Gak jarang mereka terima orderan dan tek-tok-an klien via email dari luar negeri. Salut dengan orang-orang “bebas” kayak gitu.

Saya beruntung bisa join dengan Ko & Ham sampai ITB karena jujur saya gak tahu sama sekali jalan Bandung. To cuma bilang kalo dari stasiun cuma naik 1 kali angkot ke ITB. Tapi karena ada CFD dan juga pasar seni, akses menuju ITB banyak yang ditutup. Walhasil kami harus berganti-ganti angkot. Bahkan saking macetnya kami turun di perempatan dan terpaksa jalan kurang lebih 1 km. Untungnya cuaca sedang mendung dan bandung banyak pohon. Jadi seru juga jalan rame-rame.

photo 4

Pas nyampe ITB saat itu juga mendung berubah jadi hujan besarrrrrr. Kami pun neduh di koperasi ITB samping BNI yang penuh dengan orang neduh juga. Sekitar 30 menit, hujan pun reda kami lanjut jalan lagi ke Baltos nyemperin temen-teman hand lettering sekalian cari makan siang. Sampe Baltos, kami makan siang dan saya dag dig dug harus janjian sama To. Karena sinyal yang jelek, janjian sama To jadi pe er banget. Saya pamit mencar dari Ko & friends untuk nyamperin si To.

Setelah ketemu sama To dan Les (temennya si To) dan hujan cukup reda kami bertiga langsung masuk ke pasar seni ITB. Kesan pertama di pasar seni, rame banget. Saking ramenya jalan aja susah ditambah lagi faktor hujan jadi susah mau lihat lihat booth dan pameran. Saya cuma mengekor To dan Les yang emang anak ITB untuk liat-liat. Kalo saya ditanya pasar seni seru atau enggak? Saya akan jawab “Ya gitu deh” karena memang saya kurang menikmati gara-gara hujan.

photo 1

Selesai diusir dari ITB karena hujan, saya memutuskan balik ke Jakarta sekitar jam 3 sore naik bis ke Jakarta. Saya memang berniat PP Jakarta-Bandung mengingat besoknya Senin. Ramenya Pasar Seni ITB bikin tiket travel dan kereta jadwal sore sampe malam ludes, habis bis bis. Untunglah (lagi) masih ada bis di Lewipanjang yang standby tanpa perlu bookin tiket. Perjalanan 3 jam naik bis juga cukup menyenangkan, saya berkenalan dengan Febri seorang karyawan perusahaan Kontraktor Pendingin Udara di Jakarta. Nah baru tahu kan kalo ada perusahan macam itu. Ngobrol dengan dia saya jadi tau soal Freon yang membahayakan untuk lapisan ozon. Gas freon itu nama barangnya adalah Refrigerant, dan freon itu adalah nama brand. Sama halnya dengan odol yang jadi sebutan untuk pasti gigi. Refrigrant yang membahayakan untuk lapisan ozon adalah tipe R22 yang sering dipake untuk AC dan kulkas. Sedangkan tipe yang ramah lingkungan adalah tipe R290. Terus pertanyaan kenapa kita gak make R290? Jawabannya karena harganya mahal. Harga R290 ukuran tabung 12KG bisa sekitar 14 juta (kalo gak salah inget) beda jauh dengan harga R22. Miris sebenernya denger cerita dia tentang bahaya lingkungan yang disebabkan sama penggunaan R22 di bumi ini.Di Swedia (Pusat kantornya Febri) sudah dilarang penggunaan R22 ini. Masyarakat Indonesia lebih memilih murah dan enak ketimbang mahal dan sehat. Bahkan perusahaan yang menyatakan bangunannya Go Green sekalipun pasti ada bagian-bagian dimana mereka tidak peduli soal lingkungan dikarenakan biaya maintence yang mahal.

So intinya saya cerita panjang lebar luas volume adalah, saya menemukan keseruan tersendiri saat jalan sendiri seperti bertemu orang baru, dan bertambah pengetahuan. Ternyata jalan sendiri itu tidak “menyeramkan” seperti yang sering saya bayangkan. Selama perjalanan saya justru merasa dimudahkan dari mulai saya berangkata sampai saya pulang kerumah. Memang butuh satu langkah kecil untuk memulai berjalan dan itu yang saya butuhkan. Saya hanya butuh satu klik untuk pesan tiket online untuk memulai cerita perjalanan saya.

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

12 thoughts on “Traveller “Niat””

  1. Waaa kamu ke Pasar Seni juga toh? Sama dongg. Dan kesanku sama juga dg dirimu, agak kurang bs menikmati pasar seni tahun ini karena hujan dan superrrr rame 😦 tahun 2010 ga gitu2 amat lho pasar seninyaaa..

      1. Aku kebetulan emang lagi di Bandung. Udah semingguan jalan2 di Bandungnya, pas banget lagi ada Pasar Seni. Mereka sukses sih ya acaranya secara publikasi tapi kayak gak siap nerima ledakan pengunjung, jadi kitanya gak nyaman. Pas sorean agak mendingan sih wed, yang ramenya parah banget itu pagi sampai siang.

      2. Iya aku gak nyampe sore mba. Kalo cerita bos aku yg kumpul renunian seni rupa itb seruh sih yah. Tapi aku kok gak berasa. Hehehe. Sampah berantakan, flow massa yg gak jelas, booth yg kecil kecil ditambah lagi ujan.

        Semoga 4 tahun lagi aku ksana lebih better lah yah. Hehehe.

  2. kalau aku malah kepingin banget backpaker sendirian dan belum kesampaian. huhuhuhu seringnya travel itu sama rombongan keluarga bukan untuk vacasyiong tapi untuk silaturrahmi…. -.-“

      1. nahh… itu dia wed…
        ceritanya kemarin aku nyoba ikutan cpns BNN terus setelah tes CAT belum ada pengumuman lagi. jadinya semua rencana masih kepending sampai nunggu pengumuman. gituuu….

        jalan-jalan ke Batu aja wedd… lebih banyak tempat wisata. uda ke museum angkut belum??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s