Ketipu di Jalanan

Ternyata bulan Ramadhan tidak terlalu berpengaruh bagi sebagian orang. Jumat lalu, saya baru saja tertipu oleh pedagang majalah jalanan di sekitaran daerah Harmony, Jakarta Pusat. Saya dan beberapa rekan kantor selepas solat Jumat pergi ke daerah Pecenongan, Jakarta Pusat untuk syuting video profile salah satu desainer Indonesia. Saya duduk dikursi depan mobil bersama bos yang membawa mobil. Kami berangkat dari Tanah Kusir menuju Pencenongan melewati daerah Harmony, di salah satu lampu merah banyak pedagan asongan yang menjajakan dagangannya.

Mata saya pun tertuju pada majalah muslimah dengan tampilah putih pink yang dibawa oleh salah satu pedagang. Pedagang tersebut melihat ekspresi ketertarikan saya dari kaca depan mobil, dia pun dengan segera menghampiri saya. Saya sebenernya belum pernah membaca majalah ini, karena cover yang sangat menarik mata, saya membuka kaca mobil untuk sekedar bertanya harganya. Dalam hati jika harga majalah itu dibawah 50.000 saya akan membelinya. Tapi pada kenyataan pedagang tersebut menyebutkan angka 70.000 sambil menunjuk kearah label harga di majalah . Dengan segera saya membatalkan dan berkata “Saya cari di toko buku aja deh” kepada pedagang itu. Tapi dengan sigap dia menurunkan harga menjadi 50.000. Karena mendapat penawaran yang cukup menarik dan diburu lampu hijau yang menyala, saya pun mengiyakan tawaran itu dan mengeluarkan uang 100.000 kepada pedagang.ย Slide1

Majalah pun langsung saya masukan kedalam tas setelah menerima kembalian, dan tidak saya cek kembali. Selesai dari syuting, saya membuka majalah tersebut di rumah, dan merasa sangat kecewa dengan majalah yang telah saya beli.

1. Ujung majalah terpotong

Meskipun saya bukan orang dari media cetak, tapi saya tahu bahwa majalah yang ujung atas atau bawahnya terpotong biasanya bukan untuk dijual atau hanya sampel saja. Saat plastik pembungkus yang cukup tebal dari majalah ini saya buka, ternyata ujung majalahnya telah terpotong.

2. Label harga yang dimanipulasi

Saat saya membuka majalah tersebut saya membaca halaman berlangganan dan mengetahui bahwa harga majalah sebenarnya hanya 50.000. Eeerrrrrrr emosi saya makin bertambah dan saya perhatikan kembali bahwa label harga didepan majalah adalah 70.000. Setelah saya perhatikan dengan seksama, dibagian harga seperti ada guratan angka yang telah diganti dan samar-samar menunjukan angka 5. Damn!!!! ternyata harga majalah itu memang seharusnya 50.000 bukan karena dikasih diskon.

3. Warna majalah saturasinya ketinggian

Satu lagi yang bikin saya tambah emosi, semua foto yang ada dalam majalah wajah modelnya terlihat sangat merah dan hasil cetakannya sangat tidak bagus, bikin mata sakit karena foto yang tidak fokus. Konten didalamnya pun lebih banyak advertorial bukan yang seperti ada di cover majalah. Saya tidak tahu apakah jika majalah aslinya akan seperti itu juga atau tidak.
Slide2Mungkin kalo saya membeli majalah tersebut ditempat yang seharusnya saya tidak akan mengalami kejadian ini. Tapi yang saya sesalkan kok masih saja ada orang yang tidak jujur dalam berdagang dan merugikan orang lain apalagi saat bulan Ramadhan. Apa iya rejeki pedagang itu berkah dengan menipu orang lain. Gimana nasib keluarga si pedagang yang dinafkahi dengan cara yang tidak halal. Hadehhhhh saya jadi miris sendiri, jangan sampai hal itu terjadi dengan saya mencari rejeki dengan cara yang idak berkah.

Semoga kejadian ini bisa jadi pengalaman buat temen-temen yang membaca khususnya buat saya yang suka terburu-buru kalo belanja. Belilah barang ditempat yang seharusnya, jalanan diperuntukan untuk kendaraan berjalan bukan buat berdagang. Selalu teliti dan bijak dalam membelanjakan uang.

#Feel

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

15 thoughts on “Ketipu di Jalanan”

  1. Noted wedd~~ ๐Ÿ˜€
    semua wejanganmu sudah aku tulis… soale aku tipe yg sama. kadang suka keburu kalo beli sesuatu apalagi barangnya uda menarik hati sejak pertama kali melihatanya. hahahha #oposeh!!

    Ya sudd lahh wedd~~ di buat amal ajahh, mumpung bulan ramadhan, kali ajah setelah ini dapat rejeki yg lebih gedhe. hehehe. Amin ๐Ÿ˜€

    1. Amin ahjumma.
      Jangan ah jangan di ikhlasin, nanti rejeki dia malah jadi halal kalo kita ikhlas. Tetep senewen pokoke..hehehe

      Ahjumma kangen berbincang bincang dengan dirimu. Kamana wae??

      1. hahahahahah~~~
        yawes terserah dirimu wed… huehuhehue

        Aahh jadi terharu di kangenin *peyyuukkk*
        Di sini sajah wedd, tp kebanyakan jadi silent reader. huehuehue….
        dikau gimana kabarnya wed??

      2. Yah seperti yang dirimu baca diblog.
        Not really good, specially at my job.
        Lagi berasa mesti ganti permainan baru. Apalagi ditinggal sama rekan rekan kantor.. T_T

      3. hehehe~~
        waktu itu bener e mau komen wed… tp lupa koq gak jadi. hehehe
        aku, juga pernah ngrasain itu wed… pengen keluar dari kerjaan yg sekarang karena rekan kerja ada yg resign… gak enak bgt emang…
        tp setelah diskusi sama diri sendiri, menetap saat ini jalan yg terbaik, mungkin nanti ada saatnya aku belok dan mencari tempat yg lebih membutuhkanku~~ ๐Ÿ˜€

      4. idk..i feel stuck in here.
        i love the job but doesn’t like the salary.
        I really enjoyed every moment work here, but realize i have to growing up to find my passion job.

        What a confused?!

      5. sebener e simpel sih…jawabannya passion.
        passion itu yg bikin kita betah meskipun gak ada libur. Passion itu yg bikin kita optimal, bersungguh sungguh dlm bekerja…
        sekarang tinggal keberanian kita ajah, mau mengejar passion atau gimana..

        tapi keliatannya km masih harus terpaksa di sana karena ada alasan lain yah??

  2. hihihi…
    hal serupa juga sedikit aku alami karena kegandrunganku akan majalah desain interior atau arsitektur…
    Tahu sendiri kan buku itu biasanya relatif memiliki harga sangat mahal dan seringkali ditawarkan pedagang dengan harga yang kata mereka “sudah miring sekali”.

    Tapi aku lumayan pernah jera jika membeli dengan keadaan tertentu seperti adegan membeli di lampu merah cerita di atas. akhirnya aku membuat kriteria dan kebiasaan sendiri ketika membeli buku :
    – aku hanya percaya (selain pada label keren buku) pada buku yang sudah kuintip isinya. Biasanya, kalau harganya aneh tapi isinya sepadan untuk menghasilkan inspirasi dan gagasan, aku bisa jabanin juga membelinya.
    – aku sebisa mungkin punya alternatif beberapa, alhasil yang seperti ini harus kulakukan di tukang jual buku yang diam di tempat, bisa jadi buku loakan, buku KW an, atau malah buku diskonan. Jadi aku bisa kroscek mana isi yang paling sepadan buat dibawa pulang.

    Aku mau cerita kalau aku pernah saking demennya sama itu buku, aku bawa pulang. Padahal si bapak penjual buku bekas itu sudah bilang dengan jujurnya “tapi mbak, itu udah kena batu tikus.. bau dan jorok.” hihihi… aku dengan pedenya bilang, “gak papa pak,,, di rumah ada pembersih porselen dan kayu vinil. Bisa kok dibersihkan asal masih bisa dibaca.”

    sampai sekarang, aku masih agak susah mengontrol kebiasaanku membeli buku dan majalah. ^___^

    salam kenal yaaa ^_^d

    1. Wah terima kasih atas sharingnya.
      Bener yah kalo emang udah suka sama sesuatu pasti mau kayak apa juga kondisinya pasti dibeli.

      Aku juga tipe yang kalo udah di toko buku, bisa kalap dari beli buku yang penting sampe yang gak penting bisa kebablasan. Emang harusnya beli buku ditempat seharusnya yah.

      Salam kenal.
      Terima kasih sudah mampir. Aku mampir balik yah..^^

      1. makasih banyak udah mau mampir balik…
        aku udah loncat loncat girang di sini…
        hihihi
        —-
        aku juga sering gak berprinsip kalo udah di tempat buku.
        niatnya beli apa, eh malah beli lainnya.
        niatnya beli berapa, eh malah bengkak.
        niatnya beli genre apa, eh malah lirik genre baru.
        hihihihi
        ada bagusnya BBM naik mungkin yah aku bisa mikir lebih lama kalo mau ngantongin buku ke rumah. hihihi

    1. Noted.
      Aku curiga kalo tukang dipinggir jalan itu mereka pake susuk deh.
      Abisnya aku berasa kayak dihipnotis gitu, main he’eh aja apa kata dia…ckckckckc… ๐Ÿ˜›

  3. turut prihatin ya iwedd….meskipun blm pnh kjadian, tp ngerasain kok jengkelnya kamu..*pukpuk*
    penasaran…majalah sampel kok bisa kluar trs di plastikin ya? berarti ttp ada ‘kerjasama’ donk ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s