First Date #part 01


Hawa dingin membuat ku harus keluar masuk gedung kesenian agar tidak mati beku di ruangan yang luas dengan sedikit pengunjung. Entah berapa derajat suhu didalam ruangan, dinginnya hampir membuat ku mati rasa. Rasa dingin ini makin menusuk karena aku terpaksa membatu disamping sumber listrik, menyelamatkan smartphone dari kematian.

kalau sampai hp ini mati, matilah juga aku saat ini!!’ Gumamku dalam hati.

Sudah hampir 1 jam aku menunggu tapi dia tak juga kunjung datang.

Oh Tuhan jangan sampai rencana kencan pertamaku  berakhir dengan membeku kedinginan di pameran kesenian, sambil menatapi pasangan yang bergandengan tangan..ahhh aneh.

Jam tangan digitalku menunjukkan waktu setengah enam sore. Dan saat aku berpaling melihat sekeliling…

Hai…yuk keliling

Oh Tuhan, ini dia orang yang sudah membuatku hampir membeku. Dengan topi fedora dirambut keritingnya, red shirt berkaus putih, dan sepatu bootsnya dia hampir membuatku pingsan.

Oh Tuhan kenapa dia keren sekali.’ Oke aku tahu kalo dia keren, tapi kali ini dia sukses membuatku plongo dengan penampilannya. Untunglah dandanan ku tidak terlalu ngasal hari ini, doc mart boots, rok dan jaket denim dengan warna senada, serta kacamata bulat ala anak indie sukses membuatku merasa keren. Jadi aku tidak malu-maluin berdampingan dengannya.

Kemana aja? aku udah hampir beku nungguin kamu, tau?!’ Aku berusaha mengalihkan rasa deg-deg an dengan marah-marah gak beraturan.

Yuk kemana kita!!’ Bisa bisa nya dia mengacuhkan pertanyaanku begitu saja dan berjalan seruntulan kesana kemari melihat karya seni yang sedang dipamerkan. Aku pun berusaha mengikutinya dari belakang sambil sedikit berlari.

Ji…pelan pelan kenapa sih, ini kan pameran seni. Kamu harus liatin satu-satu karyanya.’ Aku terpaksa berteriak berharap dia menghentikan langkahnya.

Oia yah, yaudah kita mau lihat dari mana? dari sana atau sana?!’ Dia menunjuk ke segala arah, ngasal.

Kamu tuh dari luar, jadi bawaanya masih buru-buru. Kita liat dari yang depan ini yah.’  Akhirnya dia setuju dengan saranku.

Ia pun memperhatikan dengan seksama video karya seni yang terletak di depan ruangan galeri. Video ini sudah aku tonton 5 kali, gimana enggak, dengan durasi hanya 5 menit diulang terus menerus dan dekat dengan sumber listrik tempat aku menunggu Aji selama sejam, maka aku hafal dengan isi videonya.

Aku gak ngerti dengan video ini?! Gak penting banget sih. Masa kayak gini aja bisa dianggap seni?’ Yah Aji emang kritis, dia bisa mengkomentari apapun yang dia tidak suka ataupun yang dia suka.

Aku hanya penikmat Ji, aku gak ngerti mana karya bagus mana yang tidak. Emang seni harus yah dipikirin segitu dalemnya.’

Dia pun kembali melangkahkan kakinya ke karya seni yang lain dan berkata ‘Kamu salah, seni itu gak usah dipikirin terlalu dalam, art it’s about sense. Ngerti gak?!

 Aku cuma bengong mendengar perkataanya. Walaupun tampilanku ala anak indie pada umumnya tapi kalo soal seni aku adalah ‘anak baru’ aku cuma bisa he-eh aja.

Seni itu tentang rasa, kamu harus merasakan karya mereka. Jika karya itu dibuat dengan hati, maka orang yang melihat juga akan ngerasain.’

Aku cuma bisa manggut-manggut mendengar penjelasan dia. Oh Tuhan kenapa dia makin keren sih kalo lagi kritis gini.

Eh kamu kok lama banget sih? Katanya dari kampus cuma 15 menit sampe sini. Kok bisa molor sampe sejam.’ Aku masih penasaran dengan alasannya membuatku membeku.

Hehe tadi aku ada recast, tuh kantornya deket sini kok, jadi sekalian aja.’ Tatapan dan senyumannya saat melihatku, membuatku gak punya alasan untuk marah.

Yaaa Aji adalah seorang actor, dia memang belum seterkenal Vino Sebastian atau Reza Rahardian. Tapi dengan filmnya yang sebentar lagi akan tanyang, aku yakin dia akan menjadi actor hebat di Indonesia.

Terus kemana lagi kita?!’ Tanpa sadar aku dan Aji telah berada di ujung pameran karya seni.

Eh kita ke ballroom aja, ada perform music loh..tapi aku kurang kenal siapa bandnya’. Mendengar soal music, dia pun mempercepat langkahnya lagi..

Dengan cahaya lampu remang-remang dan panggung yang besar, ballroom tempat berlangsungnya perform band, sudah ramai dipenuhi oleh anak indie. Emang beda deh cara anak mereka menikmati music, kalo anak metal bisa mosing dan rusuh saat band kesayangannya tampil, anak indie cuma ngegelesor di lantai karpet sambil manggut-manggut.

Kami pun memilih untuk ikutan leyeh leyeh berusaha untuk menikmati music.

5 menit berlalu..

Ji ini aku doang yang aneh atau emang suara vokalisnya ganggu banget yah?! Kok kayaknya gak matching sama musiknya’ Aku memberi komentar berdasarkan kuping orang awam.

Setiap orang punya taste sendiri sama music, coba aja nikmatin.’ Aji memberi komentar pendek yang membuatku terpaksa harus ‘menikmati’ music aneh ini.

Musik band ini sebenernya enak, setiap pemainnya memakai headlamp membuatku kurang jelas memperhatikan wajah mereka. Tapi penampilan vokalis yang ngalor ngidul disekeliling panggung membuatku merasa gerah. Sampai akhirnya…

Yuk..aku bosen denger musiknya.’ Lohh loh aku dibuat heran oleh si rambut keriting gondrong ini.

Bukannya kamu suka?’ Aku bertanya sambil menuju pintu keluar.

 ‘Suara vokalisnya tuh aneh. Gak nyambung banget sama bandnya. Padahal music mereka gak jelek jelek amat, tapi suaranya itu loh ganggu banget..’ Padahal aku yang ngerasa duluan, kenapa dia baru komentar sekarang.

‘….dia tuh sok sok-an ngikutin Thom Yorke atau The cure. Kalo dia kan ketauan terkenal nah ini, gak pantes banget deh. Kalo emang suara kayak gitu harusnya didukung sama stage perform yang teaterikal. Jadi meski suaranya jelek dia masih bisa kasih penampilan yang menarik. Nah ini suara gak oke, penampilan juga gitu..payah ah.’  Dia melanjutkan analisisnya..

Dan lagi-lagi aku cuma he-eh aja mendengar penjelasan dia. Sambil dalam hati berkata ‘ Pan tadi gue juga ngomong gitu tong..?!

—-

#part 02

Iklan

Penulis: weddewi

Pisces a bit sanguin. Gimme a buzz at sanguinme@gmail.com

4 thoughts on “First Date #part 01”

  1. yang pertama muncul dalam pikiranku adalah~~~~
    ini cerpen apa kisah nyata mu weedd??? hehehee

    aku pernah cobak-cobak bikin tulisan fiksi kayak cerpen, tapi selalu gagal total. hahaha~~ jadi menurutku orang yang bisa biki cerpen karya fiksi lainnya, menurutku kerenn.. soale gak mudah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s